Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Story Telling Malin Kundang



Malin Kundang
Once upon a time, on the north coast of Sumatra lived a poor woman and his son. The boy was called as Malin Kundang. However, as they were only fisherman’s helper, they still lived in poverty.
“Mother, what if I sail overseas? if I stay here, I’ll always be a poor man. I want to be a successful person,” said Malin kundang to his mother.
His mother wiped her tears, “If you really want to go, I can’t stop you. I could only pray to God for you to gain success in life. But, promise me, you’ll come home.”
In the next morning, Malin Kundang was ready to go.
“Ok mom I will go now… Please pray for me mom… See you mom… Bye…Bye…”
“Ok Malin… Please take care of yourself. I will always pray for you my son… Good bye…”
One day, Malin kundang met a beautiful girl. She was the daughter of his master. They fell in love each other and got married.
After several years waiting without any news, Malin Kundang’s mother was suddenly surprised by the arrival of a big ship in the pier.
“Waw… What a big & luxury ship…? Whose ship is that?”
When the ship finally pulled over, Malin Kundang’s mother saw a man who looked wealthy stepping down a ladder along with a beautiful woman.
Her blurry eyes still easily recognized him. The man was Malin Kundang, her son.
Do you think Malin Kundang will recognize her mother?
Malin Kundang’s mother quickly went to see her beloved son.
“Malin, you’re back, son!” said Malin Kundang's mother
But, Malin Kundang didn’t show any respond. He was ashamed to recognize his own mother in front of his beautiful wife.
“You’re not my Mother. I don’t know you. My mother would never wear such ragged and ugly clothes,” said Malin Kundang.
“Malin… Don’t you  recognize me? I’m your mother!” she said sadly.
Malin Kundang’s face was as cold as ice and he said.
“Guard, take this old woman out of here,and give her some money so she won’t disturb me again!”
”Malin… my son. Why do you treat your own mother like this?”
"Go! And never once in a while you're annoying me and my wife," he shouted as he drove her mother .
“Supercharge you Malin! I am your mother .. but why do not you recognize me?! You are really an ungrateful child ..Oh my God! If he is really my son,Curse him into a stone ...!" she said, cryingly
Suddenly, malin kundang’s whole body turned into stone. He was punished for not admitting his own mother.

Cerita Malin Kundang





Suatu ketika Malin Kundang hendak melakukan perjalanan dagang ke suatu tempat. Setelah bersandar di pelabuhan, tiba-tiba ada seorang ibu yang datang dengan tiba-tiba sambil berlari dan memeluk Malin Kundang.

"Malin ....Malin..Malin Kundang anakku, kau sudah datang, nak" sang ibu berkata sambil menangis memeluk Malin Kundang yang baru saja turun dari kapalnya.

"Hei...siapa kau.!!" hardik Malin kepada si ibu tersebut, "Berani sekali kau mendekati ku dengan pakaian yang sudah jelek itu, lihat pakaianku yang mahal ini menjadi kotor!", kembali Malin Kundang menghardik ibunya dengan sangat keras.

Sang ibu yang melihat gelagat anaknya yang sudah berubah, makin sedih dan tangisnya pun menjadi-jadi. "Oh..Malin Kundang, kenapa kau berubah menjadi seperti ini, nak?...aku ini ibumu...ibumu", tanya sedih sang ibu kepada Malin Kundang.

Berulang-ulang sang ibu berkata kalau dialah ibu dari Malin Kundang. "Akulah ibumu Malin...apa kau sudah lupa dengan orang yang telah membesarkanmu, nak" ratap sang ibu di kaki Malin Kundang. "Apa...?!, aku tidak pernah punya ibu seperti kau..!!", sontak sang ibu kaget, mukanya merah padam, darahnya serasa membeku, tangannya langsung lemas dan melepas pelukan dari kaki Malin Kundang.

"Engkau memang anak durhaka, tidak mau mengakui aku sebagai ibumu, aku kutuk kau menjadi batu!", murka sang ibu langsung terwujud, Malin yang mendengar sang ibu tiba-tiba berubah wujud menjadi sebuah batu dalam posisi meminta ampun kepada sang ibu. Namun ibarat nasi sudah menjadi bubur, kutukan sudah terucap, akhirnya Malin Kundang berubah menjadi batu untuk selama-lamanya.

Hikmah yang bisa diambil dari cerita malin kundang kali ini adalah agar kita selalu menghormati orang tua terutama ibu kita. Jagalah perasaannya dan janganlah sekali-kali berkata "Ah" apalagi sampai menghardik beliau. Bersikap sopan santun dan menuruti apa yang dinasehatinya dan selalu mendo'akan kedua orang tua agar kita bisa menjadi orang yang selamat dan hidup dengan penuh berkah dunia akhirat. Amin